Jumat, 27 Juni 2014

Kami Berjalan, Kami Bersama dan Kami Menyebutnya Liburan

Chapter 1 : Awal Mula

Jum'at, 3 Januari 2014 pukul 10 kurang .
Akhirnya setelah kurang lebih 20 jam menempuh perjalanan darat dari Malang menuju Sukabumi sampai saya pun sampai rumah yang dirindukan dari hari kemarin. Perjalanan ke bromo dan pendakian ke semeru yang melelahkan sekaligus menyenangkan dipenghujung 2013.

Perjalanan kali ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari, apalagi mengingat pendakian ke cikuray gagal terlaksana dikarenakan kurangnya personel.  Dan waktu itu teman saya memberitahukan bahwa paling ntar bulan juni aja langsung ke semeru. Beberapa hari setelahnya teman saya yaitu pahmi eh fahmi mengajak untuk mendaki gunung semeru dipenghujung akhir tahun. Ajakan itu tentu saja langsung saya jawab iya.

8 Nopember 2013 ajakan untuk mendaki gunung semeru datang lagi, tanggal keberangkatan sudah ditentukan yaitu 27 Desember 2013. Kami diharuskan segera memesan tiket keberangkatan untuk tanggal 27 Desember dan tiket untuk pulang pada tanggal 2 Januari 2014. Kami tidak bisa membiarkan waktu berlalu terlalu lama dan bergegas mencari tiket kereta, apalagi teman-teman lain yang nantinya akan melakukan pendakian bersama akhir tahun ini sudah memperoleh tiket pulang pergi dari bandung menuju malang dan sebaliknya untuk tanggal 27 desember 2013 - 02 Januari 2014.

Memesan tiket via online pun menjadi pilihan pertama kami. ya walaupun ujung-ujungnya nitip temen si jonih, yang dikemudian hari menjadi teman seperjalanan kali ini. Dan sorenya tiket pulang pergi bandung malang akhirnya didapat, pemberangkatan pendakian kurang lebih 2 bulan lagi.

Persiapan fisik dan peralatan pribadi apa saja yang akan dibawa mulai dipersiapkan, walaupun dari 2 bulan iu saya cuma olahraga satu hari. ppfffftttt

Waktu terus berjalan jadwal pendakian semakin dekat. Seorang teman sempat bertanya, kira-kira seperti ini "Jadi Ke Semeru? Pasti gara-gara nonton 5cm ya?" Ah pertanyaan seperti itu selalu membuat tersenyum :) Sayang  sekali saya belum pernah menonton film itu, jadi bagaimana saya ikut-ikutan film itu kalo nonton aja belum :p


Chapter 2 : Menjelang Keberangkatan

Tiket sudah dipegang, jadwal keberangkatan telah ditentukan. Perlengkapan pribadi sudah disiapkan, tidak lupa logistik pun sudah siap, begitu pula dengan perlengkapan kelompok yaitu tenda sudah dipecah menjadi 3 bagian, tujuannya agar tidak terlalu berat.

Kamis, 26 Desember 2013
Satu hari sebelum keberangkatan. Seperti hari-hari sebelum melakukan pendakian, H-1 selalu diisi dengan mengecek ulang perlangkapan, packing yang kadang dilakukan lebih dari duakali biar nyaman dibawa saat kita melakukan perjalan tentunya.

Tik...tik...tik...tik...tik...
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh waktu itu. Sementara disebelah keponakan saya zidan akhirnya tertidur juga. Malam semakin larut, perasaan tidak tenang terus menyerang melalui angin yang berhembus dingin saat itu. Gelisah, takut, ragu terus datang silih berganti, ditambah dengan adanya kabar kurang menyenangkan yang berhubungan dengan teman kita yang melakukan pendakian ke Gunung Gede dan Gunung Semeru.

Beberapa kali melihat keponakan saya yang sudah lelap dalam tidurnya, melihatnya tidur dengan nyenyak, keinginan melihatnya tumbuh besar, keceriaan keponakan lain yang masih berusia dua tahun, ditambah bayi yang beberapa hari lagi akan lahir (kata bidan sih ini juga), membantu menjernihkan dan menenangkan pikiran dan mengingat apa tujuan dan apa yang ingin diperoleh saat memutuskan melakukan pendakian ke gunung semeru. Gelisah, takut dan ragu perlahan menghilang digantikan siap, harapan dan keinginan melihat hari esok yang akan disambut dengan perjalanan panjang.

...............

Jumat, 01 Februari 2013

Catatan Angka Kembar

11:11 dua kali saya melihat jam dan dua kali pula saya melihat angka-angkat tersebut.
Suatu kebetulan? ya itu kebetulan, tapi kenapa suatu kebetulan bisa terjadi hampir setiap waktu? melihat jam digital sepertinya memang cocok untuk dihindari.
Tapi bisa sampai kapan bisa dihindari? Selama kurang lebih 2 minggu saya merasa lega tidak melihat angka2 ganda saat setiap kali melihat jam.
Kenapa harus merasa lega? tentu saja lega soalnya selama lebih dari sebulan di akhir tahun 2012 angka2 tersebut seperti mengikuti terus.

hahaha apakah saya percaya sama mitos angka kembar itu ada yang kangen sama kita?
imho tergantung kita sendiri kali ya, yang percaya mungkin hampir sering menemukan angka-angka sialan tersebut. lah kalo ga percaya pasti cuek dan ga terlalu memikirkannya kali ya :))

sedikit tulisan tentang angka kembar di jam digital, dan katanya kalo menunjukkan angka 11:11 ada yang ingin bertemu. ppffffttttttttt



Senin, 21 Januari 2013

Entah judulnya apa yang pasti ini hasil akhir desember kemarin :))

Hujan dibulan Desember......
Tulisan ini dibuat sembari mengdengarkan sebuah lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul Desember.
Entah untuk menghayati atau bukan yang pasti lagu ini ada di playlist apabila saya mengdengarkan lagu2. dan setelah saya pikir, sepertinya lagu ini emang cocok menjadi sountra
Bukan sountrack untuk saya pribadi ya XD hahaha


Setiap tetesan hujan mempunyai cerita dan makna untuk setiap orang. Apakah itu sedih, senang, bingung, tawa.
"Hujan samarkan isak airmata berlinang karena memoar yang mengakar direlung jiwa berselang." 

Satu kalimat yang teman saya ucapkan saat ngobrolin soal hujan. Sepertinya itu ungkapan perasaan dia :p ( semoga ga buka blog saya dan membaca ini, walaupun sebenernya saya sudah meminta izin terlebih dahulu.)

Hujan yang hampir setiap hari mengguyur kota ini membuat pikiran saya terlempar ke masa lalu, yaitu masa kanak kanak.
Masa dimana pikiran kita masih belum terkontaminasi  :))

Saat masih kanak kanak, apa yang kita rasakan saat turun hujan?
apa masih ada yang ingat? 
Berlarian di bawah guyuran hujan, bermain bola, bercanda bersama teman teman, atau malah berenang di kolam.dan setelah hujan reda (atau hujan makin deras) segera pulang ke rumah dengan takut2, rasa takut dimarahi oleh orang tua kita. Tapi anehnya setelah dimarahi dan saat sang hujan datang lagi, tetap ada godaan untuk bermain di bawah guyuran air hujan. 


Menjelang desember akhir hujan masih mengguyur kota ini. Seperti hujan yang turun di hari yang cerah, akhir desember ini pun sedikit ada kejutan. Kejutan yang tentunya membingungkan, apakah harus tersenyum atau sebaliknya o,O
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan reda, tapi entah kenapa pelangi itu tidak ditunggu kedatangannya.
Mungkin indah saat pelangi itu terlihat cuma ya itu pelangi itu hanya muncul untuk beberapa saat.

Kegelisahan, kerinduan, pernyataan, sapaan dan pemberitahuan.



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

posting deh daripada cuma sampai draft dan ujung2nya didelet :))

Jumat, 11 Januari 2013

Awal Januari

Pagi hari di minggu pertama Januari. Tidak seperti beberapa hari kebelakang, pagi di kota ini diguyur hujan.
Ya hujan dipagi hari kadang kala membuat kita malas untuk beraktifitas, menarik kembali selimut, menikmati kopi dan beberapa cemilan sepertinya pilihan yang tepat untuk mengisi hari. Ya mengisi hari kalo sudah waktunya libur maksudnya :p

Kurang lebih pukul 07:20 wib seperti biasa berangkat untuk menyongsong hari ini, menikmati jalanan menuju tempat kerjaan.

Melihat langit merupakan salah satu kebiasaan, ah ada yang berbeda hari ini. Ya berbeda tentu saja,  pagi ini langit tidak terlihat mendung tapi cerah. Walaupun ga tau juga berapa lama langit akan cerah. Apalagi kalo melihat beberapa hari kebelakang yang cenderung mendung.

Langit cerah seperti memberikan suatu harapan ditengah tengah suasana yang sedikit murung dikarenakan langit yang mendung.

Pikiran tersebut beberapa kali mampir hahaha...
Awal tahun yang belum bisa dibilang menyenangkan untuk saya sendiri, setelah di akhir tahun melalukan perjalanan yang menyenangkan. Merasakan keindahan alam, dimana setiap sudut yang dilihat hanya hamparan rumput yang ditumbuhi bunga edelweis.

Awal januari yang mendung, berlebihankah apabila menyebutnya seperti itu? o,O

Soal hari hari yang mendung nih, ada sedikit cerita juga.
Beberapa waktu yang lalu saya bersama beberapa orang teman mengunjungi salabintana, ya sedikit bertamasya mereka menyebutnya :p

Untuk saya pribadi sudah lama tidak menginjakkan kaki disana, kurang lebih 6 tahun tidak kesana XD
Langit emang terlihat mendung hari itu, dan saya memperkirakan hujan akan turun. Tapi demi berkumpul besama teman teman disaat hari libur? kapan lagi.
Sampai dilokasi kurang lebih pukul 13.00 membeli tiket masuk seharga Rp 5000/orang kemuadian mencari cari dimana posisi teman-teman yang lain, lumayan sulit karena saat itu lumayan banyak pengunjungnya.

Tidak lama kemudian tangan melambai lambai, menunjukkan posisi mereka. obrolan berlangsung, dan baru saya ketahui kalo tikar yang kami gunakan untuk alas duduk itu ternyata sewaan. hahaa
Seperti yang sudah diperkirakan hujan pun turun, ya mau ga mau kami harus berteduh. Untungnya ada tikar itu, ya lumayanlah bisa digunakan sebagai payung sambil berjalan menuju tempat yang teduh.

Sampai disuatu bangunan yang tempatnya dekat mushola (ah sayang foto suasana saat itu ada di kamera temen) tempat itu cukup padat. Saya perhatikan ada beberapa keluarga yang menggelar tikar disana, membuka perbekalan mereka dan menikmatinya.
Selain itu ada beberapa pedagang (saya tidak tau persis apa berteduh disana atau emang membuka lapak disana). Pedagang-pedagang tersebut terlihat sibuk melayani para pengunjung yang membeli dagangan mereka.

Disisi lain bangunan, terlihat beberapa ibu-ibu yang mengumpulkan tikar sewaan. Saya tidak tahu persis berapa biaya untuk menyewa tikar tersebut. Penghasilan dari menyewakan tikar bakal berkurang itu pikir saya. Beberapa lama kemudian setelah ibu-ibu pembawa tikar itu tidak terlihat lagi ibu lain yang membawa beberapa payung termasuk yang dia pakai, ya itu mungkin payung yang akan disewakan. Jujur sih ga sempat bertanya apa bener itu payung sewaan XD

Cuma saya menyimpulkan, seperti koin yang memiliki dua muka.
Mendung yang berlanjut hujan akan ada selalu sisi baiknya tidak selalu sisi negatifnya, ya tentu saja karena hujan itu anugrah XD

Mendung tidak harus selalu berpikir murung, mungkin sedikit terpengaruh dengan kondisi disekitar dan perasaan yang bergejolak (ejiiiieee) yang membuat diri ini beberapa kali murung. Itu bisa jadi salah satu menyebabnya, setiap orang pasti memiliki persoalan. Dan murung atau tidak murung tergantung kita. apabila pikiran kita lebih condong ke murung wassalam we kerasa murung terus.

Padahal sayang banget kan kalo merasa murung terus, apa hari-hari yang bisa diisi dengan senyum harus selalu diisi dengan episode murung? tapi kalo sesekali boleh kali. oke ini sedikit pembenaran, hahaha

Awal januari yang diselimuti kebingungan. kebingungan yang datang berbarengan dengan kejutan. Antara harus senang, sedih atau apapun itu untuk menerima kejutan yang ada.
Padahal sudah merasa 101% sudah siap menghadapi kejutan tersebut, tapi pas kejutan itu datang rasa siap itu terasa berkurang setengahnya o,Oa

catatan ini dibuat pada
Hari : Kamis, 10 Januari 2013


Sabtu, 29 Desember 2012

Pendakian Diakhir Tahun 2012

Desember 2012.
Tidak terasa pergantian tahun tinggal menghitung hari, ada beberapa teman yang bertanya "ntar tahun baruan mau kemana?" ga tau jawaban itu yang selalu keluar. Ya karena saya emang tidak merencanakan akan kemana di malam tahun baru :D yang pasti sebelum tahun ini berakhir ini melakukan sesuatu yang berbeda dan memiliki kesan yang mendalam. pppffftttttt

Sore hari selepas pulang kerja, seperti biasa menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi di kedai kopi favorit di kota sukabumi ini. Bertemu dengan beberapa teman yang biasa berkumpul disana.
Obrolan terus mengalir sampai ada beberapa teman yang membahas untuk melancong ke Gunung Gede.
Tidak butuh waktu lama saya "mengiyakan" ajakan untuk ikut mendaki Gunung Gede.

Keinginan untuk kembali menginjak puncak Gunung Gede akhirnya sedikit menemui titik terang. Sebenernya beberapa bulan yang lalu ada ajakan yang sama  dan dikarenakan beberapa hal saya memutuskan tidak ikut.
Keputusan suda diambil, foto copy KTP sebagai salah satu syarat pendaftaran sudah diberikan, dan keputusan saya sudah bulat. Saya berserta 4 kawan saya yaitu fahmi, yudha, ableh dan utun siap untuk berangkat kesana.

Tanggal keberangkatan pun sudah ditetapkan, sementara persiapan fisik? hmmm untuk yang ini ga ada sama sekali, olahraga pun sudah jarang yang ada modal nekad untuk bisa kesana. Cuaca yang tidak tentu membuat beberapa orang bertanya tanya apa benar mau benar benar kesana. Gimana kalo hujan? ya saya pun berpikir demikian, tetapi rasa ingin menginjakkan kaki di Gunung Gede begitu besar dan itu mengalahkan rasa takut akan kehujanan saat melakukan pendakian atau kehujanan setelah sampai tujuan.

Senin 24 Desember 2012
Satu hari menjelang keberangkatan. Packing dilakukan di sore hari, dan apabila diingat sekarang ada beberapa keperluan yang lupa saya bawa. tapi ko itu ransel tetep aja terasa berat :))
Meeting Point ditentukan, dan gedung juang dipilih, jam 5 pagi ditentukan untuk berkumpul disana sebelum berangkat ke Pondok Halimun (PH).
Rumah penguasa komplek kang ajid yaitu yudha :Peace: dipilih menjadi tempat persinggahan, lokasinya yang dekat dengan Gedung Juang menjadi salah satu alasan saya untuk bermalam disana. daripada berangkat sebelum jam 5 pagi dari rumah tentunya.
Fahmi orang yang mengajak saya untuk mendaki Gunung Gede kali ini juga bermalam dirumah yudha sementara untuk dua orang teman lainnya berangkat dari rumah masing-masing.

Selasa 25 Desember 2012
Alarm berbunyi pukul 04:15 lebih 30 menit daripada alarm yang saya setting saya pikir. Jadi masih ada waktu sebelum jam 5 untuk melanjutkan tidur XD
Pukul 05.00 kurang alarm kembali berbunyi, waktunya untuk bangun dan bersiap merapat ke tempat berkumpul.
Tak lama kemudian ableh datang, menurut dia di Gedung Juang belum ada siapa2. Sarapan disajikan untuk para calon petualang yang akan segera berangkat (dan saya ucapakn terima kasih tentunya untuk ibu yudha selaku tuan rumah).

Didepan Gedung Juang bersama 4 orang teman saya yang sudah berkumpul untuk melakukan perjalanan, disana bertemu seorang teman semasa sekolah yang ternyata ikut dalam pendakian kali ini. Ya bertambah lagi orang yang saya kenal. Selain itu ada juga seorang guru yang dulu pernah mengajar saya, yap tambahan seorang yang tidak terlalu asing untuk saya.
 Kurang lebih 11 orang berkumpul bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke salabintana. Titik dimana pendakian akan dimulai.

06:12 angkot mulai bergerak ke arah salabintana, dan 20 menit kemudian kami sampai di Pondok Halimun. Pendakian pun akan segera dimulai.


29 orang termasuk saya dan 4  orang teman berkumpul dan bersiap berangkat. Kurang lebih pukul 07.00 wib perjalananpun dimulai.
Belum terlalu jauh kaki melangkah, ternyata salah seorang teman saya tidak bisa melanjutkan pendakian ini. Masalah fisik menjadi salah satu alasan. Perjalanan terus dilanjutkan dengan sesekali istirahat, kurang lebih pukul 12.30 bersitirahat untuk makan siang bersama beberapa kawan. Setelah mengisi perut yang menurut saya penuh kebersamaan perjalanan dilanjutkan.
Sampai Cileutik sekitar pukul 14:00 untuk kembali beristirahat dan mengisi ulang botol air minum bagi yang kehabisan, sementara untuk saya sendiri perbekalan air terasa masih cukup sampai alun-alun suryakencana.

Cuaca makin dingin, rintik-rintik hujan mulai turun dan kabut mulai terlihat. Setelah istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute menuju alun-alun terasa makin curam dan tidak lama hujan pun turun.
Beban bawaan terasa makin berat, tidak bisa banyak beristirahat dibawah guyuran hujan. Pilihannya beristirahat dan kedinginan dibawah guyuran hujan atau melanjutkan perjalanan dengan mengabaikan rasa dingin diseluruh badan akibat kehujanan dan kelelahan akibat beban yang makin berat.

Pohon besar yang melintang di rute yang semakin lama semakin menanjak saya jadikan patokan bahwa alun-alun surya kencana sudah tidak terlalu jauh. Kurang lebih 3 jam akhirnya sampai di alun-alun suryakencana dan rasa lega pun tidak dapat saya tahan.

Cuaca makin terasa dingin, kabut masih menyelimuti tetapi rintik hujan makin berkurang. Hamparan rumput luas dan edelweis terhampar dimata. dan rasa syukur sudah sampai disini meluap luap menjadi obat untuk dingin yang menusuk tulang.
Di Alun-alun Suryakencana barat beberapa tenda sudah didirikan, menunggu teman seperjalanan untuk mendirikan tenda kami dengan air hangat yang ditawarkan kawan sependakian.
Tak lama kemudian yudha dan fahmi pun datang, tenda didirikan dan kami bergegas memasuki tenda untuk berganti pakaian untuk mengurangi rasa dingin.

Sore di Alun-alun Suryakencana
Hujan pun reda dan kami bisa menikmati hamparan luas alun-alun suryakencana. Sore berganti malam, rasa dingin semakin menusuk. Air jahe dihidangkan untuk membantu menghangatkan tubuh. Malam semakin larut, kami merasa waktunya untuk beristirahat sebelum menyongsong esok hari.

Suara suara di luar tenda terdengar, obrolan untuk berangkat ke puncak gunung semakin ramai. Menikmati matahari terbit sepertinya akan menyenangkan,setelah diajak seorang teman saya pun keluar tenda. Kabut tebal menyelimuti, tidak lama kemudian rasa dingin yang menggigilkan membuat saya masuk kembali ke tenda dan memutuskan untuk tidur kembali.

Sekitar pukul enam pagi suara hiruk pikuk makin terdengar, kabut masih terlihat menyelimut. Fahmi memberitahu rencana naik ke puncak belum dilakukan.
Sang matahari suna menyinari dan rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh, setelah sarapan akhirnya kami serombongan melanjutkan perjalan ke puncak Gunung Gede.

Puncak Gede dilihat dari alun-alun suryakencana

Lutut yang biasa mendadak sakit kembali kambuh, perjalanan ke puncak terasa berat. ingin rasa untuk kembali ke tenda. Tapi terasa akan kurang apabila sudah melakukan perjalanan jauh kurang lebih 8 jam tidak menginjakkan kaki dipuncak. Dengan lutut yang terasa ngilu akhirnya bisa menginjakkan kaki di Puncak Gede dengan ketinggian 2958 mdpl ini.
Perjalanan menuju Puncak Gede

Gunung Gede Pangrango dilihat dari Puncak Gede

Alun-alun suryakencana dilihat dari Puncak Gede



Cukup lama berada dipuncak menikmati keindahan alam beberapa kali mengambil foto, baik foto gunung, awan, dan segala pemandangan yang terlihat darisana, foto2 narsis pun tidak lupa diabadikan untuk dijadikan kenangan.
Setelah cukup puas dipuncak sana sudah waktunya kembali ke alun-alun untuk beristirahat sebelum melakukan perjalanan turun.
Ah lutut ini semakin terasa, secara perlahan berjalan menyusuri jalan bebatuan.

Sampai kembali di tenda, matahari semakin menghangatkan. waktunya berjemur menghangatkan badan dan menjemur beberapa pakaian yang basah saat melakukan pendakian. Terlihat beberapa kawan ditenda masing masing pun melakukan hal yang sama.

Alun-alun Suryakencana

Sedikit penampakan tenda kawan seperjalanan


Akhirnya sedikit obat untuk lutut yang sakit ini bisa terobati, utun ternyata membawa balsem yang lupa dikeluarkannya saat kemarin malam. Lumayan banyak mengoleskannya dibagian yang sakit itu dan tidak lupa beberapa bagian kaki yang pegal. Yap alhamdulillah lulut terasa membaik walaupun rasa nyeri terus menyerang, tapi saya rasa itu cukup untuk bisa membawa saya pulang.

Menjelang siang beberapa kawanan membereskan tenda mereka, tapi tak lama kemudian hujan kembali turun. Kami berempatpun serentak membereskan pakaian yang dijemur dan segera memasuki tenda kembali. Terlihat beberapa kawan seperjalanpun melakukan hal yang sama.
Harus bersyukur hujan turun tidak terlalu lama sehingga pukul 12:30 tepatnya setelah dzuhur kelompok yang terdiri dari 28 orang ini bersiap untuk turun gunung.

Perjalan dimulai dan dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai cileutik. lebih cepat 2 jam saat melakukan pendakian. Pukul dua kurang setelah keduapuluh delapan orang berkumpul dan istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute untuk pulang berbeda dengan saat mendaki. Untuk rute pulang saya kurang hapal, tepatnya rute yang harus mengarah untuk ke kiri atau kenan.

Tiga kali terpeleset diakibatkan jalan yang licin, untunglah lutut terasa membaik (tertolong dengan adanya balsem) beberapa kali saya berjalan sendiri, jauh dari yang depan ataupun yang belakang. Untungnya saya masih ingat jalan menuju pos yang menunjukkan 6 Km ke arah Pondok Halimun dan 5Km menuju Alun-alun Suryakencana setelah memasuki jalan dua arah dan berganti rute barulah saya tidak tahu sama sekali.

Beberapa orang berkumpul dipos tersebut, beristirahat beberapa menit untuk menunggu rombongan dibelakang tapi tidak bisa terlalu lama dikarenakan hujan mulai turun.
Kami pun bergegas dikarenakan hujan dan mungkin akan berbahaya bagi tubuh apabila menunggu ditengah guyuran hujan.
Rute berdeba diambil, hujan makin lebat dan saya ikut di rombongan pembuka jalan. Rasa dingin terus menusuk seluruh badan, guyuran hujan membuat efek balsem di lutut hilang, rasa sakit yang menusuk kembali tapi saya tak bisa berhenti, beberapa otot kaki kram semuapun pun mungkin merasakan. Satu hal yang saya keluhkan yaitu lutut ini.

Tak ingin terpisah dari rombongan yang terus berjalan tanpa henti dan tidak hapal rute yang diambil itulah alasan saya mencoba untuk terus berjalan, beberapa kali terpeleset dan beberapa kali pula saya harus menyeret kaki kanan yang lututnya kumat ini untuk berjalan. Tidak saya sendiri yang beberapa kali terpeleset, teman teman didepanpun mengalami hal yang serupa.
Diperjalanan ada beberapa simpangan dan untuk memudahkan rombongan dibelakang, simpangan yang bukan jalur untuk pulang diberi tanda baik itu dengan batang pohon.

Perjalanan kali ini terasa singkat, mungkin dikarenakan orang yang membuka jalan yaitu pak usep terus berjalan tanpa henti selain dua hal yang saya sebut diatas ini menjadi motivasi untuk terus berjalan dibawah guyuran hujan.

Dibutuhkan kurang lebih 3 jam dari cileutik sampai di hamparan kebun teh yang sedang direboisasi. Hujan masih mengguyur dan rasa dingin disekujur tubuh masih terasa. Tidak terlalu lama rombongan kedua akhirnya sampai dihamparan kebun teh tersebut.
11 orang berkumpul disana, masih ada 17 orang didalam rute yang masih liar tersebut, menurut pak usep rute tersebut memang sedikit menyesatkan apalagi untuk yang tidak hapal jalan, untungnya sudah diberi tanda untuk memudahkan teman teman yang lain.

Kami pikir akan sangat berbahaya apabila kawan kawan didalam rute tersebut terjebak sampai malam, apalagi jaraknya kami yang sudah sampai dan rombongan yang tersisa ternyata cukup jauh. Kurang lebih 30 menit kami menunggu akhirnya suara rombongan berisi 17 orang teman seperjalanan kami terdengar. Lega rasanya apalagi dua teman saya masih disana.
Akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang, rasa lelah dan senang bisa segera pulang meluap-luap. Tidak ada rasa jera untuk kembali menyapa bebukitan di Alun-alun Suryakencana. Keinginan untuk menginjakkan kaki disana di Puncak Gede makin menggelora, rasanya ingin menyapa kembali hamparan luas alun-alun suryakencana dan bunga edelweis yang mekar di tahun yang akan datang. :)



Senin, 10 Desember 2012

Nasi Bakar Ala Pasta La-Rizh

Oke akan ada yang berbeda di blog ini, tepatnya sih untuk tulisan ini :D 
Untuk pertama kali loh bakal posting soal kuliner, sebenernya bukan bener2 yang pertama. Soalnya pernah mau bikin postingan soal kuliner juga. cuma sangat disayangkan semuanya berakhir di draft atau didelet :))

Ahhh sepertinya sedikit kata sambutan yang ga penting diatas cukup, mari kita ke menu utama XD

Sabtu 08 Desember 2012 Komunitas Blogger Sukabumi yaitu @BumiBlogger mengadakan gath, yang bertempatkan di Pasta La-Rizh Cafe An Coffee House. tempat kuliner yang menyajikan berbagai makan pasta ini beralamatkan di Jalan Jendral Sudirman No.49 Kota Sukabumi.
Cafe & Coffee House ini menyediakan menu anatara lain : Aneka Pasta, Aneka Macaroni Pasta, Baked Rice, Lasagna, Pizza Itali, Indonesia Speciality, Aneka Minuman dan tentu saja Kopi.

Ya disanalah para blogger sukabumi berkumpul. Selain untuk membahas program2 @BumiBlogger untuk kedepannya, juga untuk memenuhi undangan Grand Launching Pasta Larizh Cafe and Coffee House.
acaranya sendiri menurut jadwal sih Pukul 16:00 wib
saya sendiri datang 5 menit sebelumnya XD  tepat waktu dong, bangga dikit gpp ya. :))

Disana saya memesan "Nasi Bakar" lha ko nasi bakar sih? kalo mau nasi bakar kenapa ke tempat yang lebih menonjolkan pasta? Padahal di menu ada aneka pasta yang menggugah selera :9
 mungkin pertanyaan tersebut terlintas di dalam pikiran. (kalo ada coba acungkan tangan, hahaha) 

Justru karena itu saya memesan nasi bakar. memesan sesuatu yang berbeda di tempat kuliner ini, mencoba menikmati nasi bakar ala Pasta La-Rizh, apalagi saya yang memang menyukai nasi bakar. Walaupun saat itu belum tau nasi bakar jenis apa yang ditawarkan. apa itu nasi bakar ayam, nasi bakar sapi atau nasi bakar udang? 
Dan menurut saya mungkin lebih baik menulis lengkap nama nasi bakar tersebut, biar lebih memudahkan konsumen untuk memilih. atau apa emang saya yang salah baca, dikarenakan kurangnya konsentrasi. hahaha

Pesanan datang............................. nasi bakar ayam siap dinikmati :9
Nasi bakar ayam ala Pasta La-Rizh begitu saya menyebutnya :D dengan potongan ayam yang yang cukup ditambah potongan jamur yang lembut di mulut :9 dan jangan lupa akan lebih nikmat saat dicampur dengan sambal :D
Rasa nasi bakarnya sendiri tidak terlalu asin, mungkin  ciri khas nasi bakar tersebut?  ah sayang kemarin tidak sempat bertanya ke pada chef XD
tapi menurut saya asin atau tidak tergantung selera masing masih sih :D dan untuk nasi bakar Pasta La-Rizh ini menurut saya cukup :)
Sementara untuk minumnya saya memesan sky milk. minuman soda susu XD
warna birunya loh membuat saya merasa ingin mencicipi minuman ini.

Dengan harga yang terjangkau ditambah dengan tempat yang cocok untuk bersantai @PastaLaRizh patut dikunjungi oleh para menggiat kuliner di sukabumi. Dengan adanya free wi-fi menambah daya tarik Cafe & Coffee House yang memiliki dua lantai ini.
Atau anda penggiat komunitas atau ikut fans club sepakbola coba kontak @PastaLaRizh siapa tau anda bisa mengadakan acara disana :)




Rabu, 05 Desember 2012

Hujan, Pelangi dan Berpikir Positif

Hujan dipagi hari, sudah dua hari sang langit menangis dipagi hari.
Hawa dingin menyebar, mungkin ada beberapa orang yang berat untuk beranjak dari tempat tidur dan sedikit malas untuk beraktifitas. Menarik selimut kembali, ya itu bisa jadi obat dipagi hari.
Terlintas beberapa senyuman dan itu seperti penghangat dan pemberi semangat untuk menjalan aktifitas dipagi hari.

Dalam perjalanan menikmati indah langit, rasa tenang menikmati warna biru dan luasnya langit memberikan ketenangan. Imho warna biru emang selalu memberi ketenangan X)
Sayangnya birunya langit dua hari ini mendung. Yang terlihat hanya awan mendung dan kabut disepanjang jalan.
Sedangkan kabut memberikan kesan samar, tanda tanya, menimbulkan rasa ingin tahu dan dalam pikiran saya ada apa dibelakang kabut tersebut ???
Selain itu setelah hujan mungkin beberapa orang berharap melihat pelangi. Pemandangan yang bisa dinikmati setelah hujan reda. Seperti secercah harapan yang muncul setelah  mendung.
Tapi untuk melihatnya lagi tentu saja menunggu hujan datang dan hujan itu reda.

Apakah melihat pelangi itu hanya kesenangan sesaat, dan saat pelangi itu menghilangan kesenangan itu akan hilang juga? dan untuk bisa menikmati keindahnya lagi harus menunggu?
Pertanyaan yang ada dan ga bisa dijawab.
Daripada bingung bingung dengan pertanyaan tersebut lebih baik bersyukur sudah merasakan keindahan alam tersebut, dan berharap akan merasakannya kembali?
Heum.... senyuman orang orang terdekat dipagi hari terasa indahnya dengan pemandangan pelangi yang datang tanpa bisa kita duga.
oke itu bukan curhat ya XD

Saya jadi ingat kembali obrolan dengan seorang teman.
Oke tapi ga sebut namanya ya, ga sebuk merek deh :))
Obrolan itu membahas tentang cara berpikir untuk selalu mencoba berpikiran positif, dan mengesampingkan yang negatif.
Mencoba berpikir baik tentang sesuatu hal :) Contohnya ya hujan, diakhir hujan akan ada pelangi.
Kenapa harus mengeluh saat turun hujan? Kenapa ga mencoba melihat hujan dari sisi baiknya XD

Obrolan tersebut, hujan dan pelangi mengingatkan saya kepada sebuah buku yang didalamnya membahas menata Pikiran, bagaimana kita menata pikiran kita.

"ketika seorang menganggap dirinya berhasilnya, menganggap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. if you think you can, you can. if you think can not, you can not. Kalau anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi kalo anda berpikir sudah tidak bisa, maka anda tidak bisa."

Seperti itu yang ada dibuku tersebut :p
Tulisan ini untuk mengingatkan saya tentunya dan syukur2 kalo ada yang baca :))
Bukannya dengan membaca, kemudian menuliskannya akan lebih mudah diingat.
Tapi diingat saja tentu saja kalo ga di amalin percuma XD

Berbicara lebih mudah daripada melaksanakan.
tetapi diam tidak lebih baik daripada mencoba walaupun gagal. :))
mari selalu berpikiran positif dan saat kau berpikir bisa pasti bisa 8-)