Desember 2012.
Tidak terasa pergantian tahun tinggal menghitung hari, ada beberapa teman yang bertanya "ntar tahun baruan mau kemana?" ga tau jawaban itu yang selalu keluar. Ya karena saya emang tidak merencanakan akan kemana di malam tahun baru :D yang pasti sebelum tahun ini berakhir ini melakukan sesuatu yang berbeda dan memiliki kesan yang mendalam. pppffftttttt
Sore hari selepas pulang kerja, seperti biasa menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi di kedai kopi favorit di kota sukabumi ini. Bertemu dengan beberapa teman yang biasa berkumpul disana.
Obrolan terus mengalir sampai ada beberapa teman yang membahas untuk melancong ke Gunung Gede.
Tidak butuh waktu lama saya "mengiyakan" ajakan untuk ikut mendaki Gunung Gede.
Keinginan untuk kembali menginjak puncak Gunung Gede akhirnya sedikit menemui titik terang. Sebenernya beberapa bulan yang lalu ada ajakan yang sama dan dikarenakan beberapa hal saya memutuskan tidak ikut.
Keputusan suda diambil, foto copy KTP sebagai salah satu syarat pendaftaran sudah diberikan, dan keputusan saya sudah bulat. Saya berserta 4 kawan saya yaitu fahmi, yudha, ableh dan utun siap untuk berangkat kesana.
Tanggal keberangkatan pun sudah ditetapkan, sementara persiapan fisik? hmmm untuk yang ini ga ada sama sekali, olahraga pun sudah jarang yang ada modal nekad untuk bisa kesana. Cuaca yang tidak tentu membuat beberapa orang bertanya tanya apa benar mau benar benar kesana. Gimana kalo hujan? ya saya pun berpikir demikian, tetapi rasa ingin menginjakkan kaki di Gunung Gede begitu besar dan itu mengalahkan rasa takut akan kehujanan saat melakukan pendakian atau kehujanan setelah sampai tujuan.
Senin 24 Desember 2012
Satu hari menjelang keberangkatan. Packing dilakukan di sore hari, dan apabila diingat sekarang ada beberapa keperluan yang lupa saya bawa. tapi ko itu ransel tetep aja terasa berat :))
Meeting Point ditentukan, dan gedung juang dipilih, jam 5 pagi ditentukan untuk berkumpul disana sebelum berangkat ke Pondok Halimun (PH).
Rumah penguasa komplek kang ajid yaitu yudha :Peace: dipilih menjadi tempat persinggahan, lokasinya yang dekat dengan Gedung Juang menjadi salah satu alasan saya untuk bermalam disana. daripada berangkat sebelum jam 5 pagi dari rumah tentunya.
Fahmi orang yang mengajak saya untuk mendaki Gunung Gede kali ini juga bermalam dirumah yudha sementara untuk dua orang teman lainnya berangkat dari rumah masing-masing.
Selasa 25 Desember 2012
Alarm berbunyi pukul 04:15 lebih 30 menit daripada alarm yang saya setting saya pikir. Jadi masih ada waktu sebelum jam 5 untuk melanjutkan tidur XD
Pukul 05.00 kurang alarm kembali berbunyi, waktunya untuk bangun dan bersiap merapat ke tempat berkumpul.
Tak lama kemudian ableh datang, menurut dia di Gedung Juang belum ada siapa2. Sarapan disajikan untuk para calon petualang yang akan segera berangkat (dan saya ucapakn terima kasih tentunya untuk ibu yudha selaku tuan rumah).
Didepan Gedung Juang bersama 4 orang teman saya yang sudah berkumpul untuk melakukan perjalanan, disana bertemu seorang teman semasa sekolah yang ternyata ikut dalam pendakian kali ini. Ya bertambah lagi orang yang saya kenal. Selain itu ada juga seorang guru yang dulu pernah mengajar saya, yap tambahan seorang yang tidak terlalu asing untuk saya.
Kurang lebih 11 orang berkumpul bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke salabintana. Titik dimana pendakian akan dimulai.
06:12 angkot mulai bergerak ke arah salabintana, dan 20 menit kemudian kami sampai di Pondok Halimun. Pendakian pun akan segera dimulai.
29 orang termasuk saya dan 4 orang teman berkumpul dan bersiap berangkat. Kurang lebih pukul 07.00 wib perjalananpun dimulai.
Belum terlalu jauh kaki melangkah, ternyata salah seorang teman saya tidak bisa melanjutkan pendakian ini. Masalah fisik menjadi salah satu alasan. Perjalanan terus dilanjutkan dengan sesekali istirahat, kurang lebih pukul 12.30 bersitirahat untuk makan siang bersama beberapa kawan. Setelah mengisi perut yang menurut saya penuh kebersamaan perjalanan dilanjutkan.
Sampai Cileutik sekitar pukul 14:00 untuk kembali beristirahat dan mengisi ulang botol air minum bagi yang kehabisan, sementara untuk saya sendiri perbekalan air terasa masih cukup sampai alun-alun suryakencana.
Cuaca makin dingin, rintik-rintik hujan mulai turun dan kabut mulai terlihat. Setelah istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute menuju alun-alun terasa makin curam dan tidak lama hujan pun turun.
Beban bawaan terasa makin berat, tidak bisa banyak beristirahat dibawah guyuran hujan. Pilihannya beristirahat dan kedinginan dibawah guyuran hujan atau melanjutkan perjalanan dengan mengabaikan rasa dingin diseluruh badan akibat kehujanan dan kelelahan akibat beban yang makin berat.
Pohon besar yang melintang di rute yang semakin lama semakin menanjak saya jadikan patokan bahwa alun-alun surya kencana sudah tidak terlalu jauh. Kurang lebih 3 jam akhirnya sampai di alun-alun suryakencana dan rasa lega pun tidak dapat saya tahan.
Cuaca makin terasa dingin, kabut masih menyelimuti tetapi rintik hujan makin berkurang. Hamparan rumput luas dan edelweis terhampar dimata. dan rasa syukur sudah sampai disini meluap luap menjadi obat untuk dingin yang menusuk tulang.
Di Alun-alun Suryakencana barat beberapa tenda sudah didirikan, menunggu teman seperjalanan untuk mendirikan tenda kami dengan air hangat yang ditawarkan kawan sependakian.
Tak lama kemudian yudha dan fahmi pun datang, tenda didirikan dan kami bergegas memasuki tenda untuk berganti pakaian untuk mengurangi rasa dingin.
Hujan pun reda dan kami bisa menikmati hamparan luas alun-alun suryakencana. Sore berganti malam, rasa dingin semakin menusuk. Air jahe dihidangkan untuk membantu menghangatkan tubuh. Malam semakin larut, kami merasa waktunya untuk beristirahat sebelum menyongsong esok hari.
Suara suara di luar tenda terdengar, obrolan untuk berangkat ke puncak gunung semakin ramai. Menikmati matahari terbit sepertinya akan menyenangkan,setelah diajak seorang teman saya pun keluar tenda. Kabut tebal menyelimuti, tidak lama kemudian rasa dingin yang menggigilkan membuat saya masuk kembali ke tenda dan memutuskan untuk tidur kembali.
Sekitar pukul enam pagi suara hiruk pikuk makin terdengar, kabut masih terlihat menyelimut. Fahmi memberitahu rencana naik ke puncak belum dilakukan.
Sang matahari suna menyinari dan rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh, setelah sarapan akhirnya kami serombongan melanjutkan perjalan ke puncak Gunung Gede.
Lutut yang biasa mendadak sakit kembali kambuh, perjalanan ke puncak terasa berat. ingin rasa untuk kembali ke tenda. Tapi terasa akan kurang apabila sudah melakukan perjalanan jauh kurang lebih 8 jam tidak menginjakkan kaki dipuncak. Dengan lutut yang terasa ngilu akhirnya bisa menginjakkan kaki di Puncak Gede dengan ketinggian 2958 mdpl ini.
Cukup lama berada dipuncak menikmati keindahan alam beberapa kali mengambil foto, baik foto gunung, awan, dan segala pemandangan yang terlihat darisana, foto2 narsis pun tidak lupa diabadikan untuk dijadikan kenangan.
Setelah cukup puas dipuncak sana sudah waktunya kembali ke alun-alun untuk beristirahat sebelum melakukan perjalanan turun.
Ah lutut ini semakin terasa, secara perlahan berjalan menyusuri jalan bebatuan.
Sampai kembali di tenda, matahari semakin menghangatkan. waktunya berjemur menghangatkan badan dan menjemur beberapa pakaian yang basah saat melakukan pendakian. Terlihat beberapa kawan ditenda masing masing pun melakukan hal yang sama.
Akhirnya sedikit obat untuk lutut yang sakit ini bisa terobati, utun ternyata membawa balsem yang lupa dikeluarkannya saat kemarin malam. Lumayan banyak mengoleskannya dibagian yang sakit itu dan tidak lupa beberapa bagian kaki yang pegal. Yap alhamdulillah lulut terasa membaik walaupun rasa nyeri terus menyerang, tapi saya rasa itu cukup untuk bisa membawa saya pulang.
Menjelang siang beberapa kawanan membereskan tenda mereka, tapi tak lama kemudian hujan kembali turun. Kami berempatpun serentak membereskan pakaian yang dijemur dan segera memasuki tenda kembali. Terlihat beberapa kawan seperjalanpun melakukan hal yang sama.
Harus bersyukur hujan turun tidak terlalu lama sehingga pukul 12:30 tepatnya setelah dzuhur kelompok yang terdiri dari 28 orang ini bersiap untuk turun gunung.
Perjalan dimulai dan dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai cileutik. lebih cepat 2 jam saat melakukan pendakian. Pukul dua kurang setelah keduapuluh delapan orang berkumpul dan istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute untuk pulang berbeda dengan saat mendaki. Untuk rute pulang saya kurang hapal, tepatnya rute yang harus mengarah untuk ke kiri atau kenan.
Tiga kali terpeleset diakibatkan jalan yang licin, untunglah lutut terasa membaik (tertolong dengan adanya balsem) beberapa kali saya berjalan sendiri, jauh dari yang depan ataupun yang belakang. Untungnya saya masih ingat jalan menuju pos yang menunjukkan 6 Km ke arah Pondok Halimun dan 5Km menuju Alun-alun Suryakencana setelah memasuki jalan dua arah dan berganti rute barulah saya tidak tahu sama sekali.
Beberapa orang berkumpul dipos tersebut, beristirahat beberapa menit untuk menunggu rombongan dibelakang tapi tidak bisa terlalu lama dikarenakan hujan mulai turun.
Kami pun bergegas dikarenakan hujan dan mungkin akan berbahaya bagi tubuh apabila menunggu ditengah guyuran hujan.
Rute berdeba diambil, hujan makin lebat dan saya ikut di rombongan pembuka jalan. Rasa dingin terus menusuk seluruh badan, guyuran hujan membuat efek balsem di lutut hilang, rasa sakit yang menusuk kembali tapi saya tak bisa berhenti, beberapa otot kaki kram semuapun pun mungkin merasakan. Satu hal yang saya keluhkan yaitu lutut ini.
Tak ingin terpisah dari rombongan yang terus berjalan tanpa henti dan tidak hapal rute yang diambil itulah alasan saya mencoba untuk terus berjalan, beberapa kali terpeleset dan beberapa kali pula saya harus menyeret kaki kanan yang lututnya kumat ini untuk berjalan. Tidak saya sendiri yang beberapa kali terpeleset, teman teman didepanpun mengalami hal yang serupa.
Diperjalanan ada beberapa simpangan dan untuk memudahkan rombongan dibelakang, simpangan yang bukan jalur untuk pulang diberi tanda baik itu dengan batang pohon.
Perjalanan kali ini terasa singkat, mungkin dikarenakan orang yang membuka jalan yaitu pak usep terus berjalan tanpa henti selain dua hal yang saya sebut diatas ini menjadi motivasi untuk terus berjalan dibawah guyuran hujan.
Dibutuhkan kurang lebih 3 jam dari cileutik sampai di hamparan kebun teh yang sedang direboisasi. Hujan masih mengguyur dan rasa dingin disekujur tubuh masih terasa. Tidak terlalu lama rombongan kedua akhirnya sampai dihamparan kebun teh tersebut.
11 orang berkumpul disana, masih ada 17 orang didalam rute yang masih liar tersebut, menurut pak usep rute tersebut memang sedikit menyesatkan apalagi untuk yang tidak hapal jalan, untungnya sudah diberi tanda untuk memudahkan teman teman yang lain.
Kami pikir akan sangat berbahaya apabila kawan kawan didalam rute tersebut terjebak sampai malam, apalagi jaraknya kami yang sudah sampai dan rombongan yang tersisa ternyata cukup jauh. Kurang lebih 30 menit kami menunggu akhirnya suara rombongan berisi 17 orang teman seperjalanan kami terdengar. Lega rasanya apalagi dua teman saya masih disana.
Akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang, rasa lelah dan senang bisa segera pulang meluap-luap. Tidak ada rasa jera untuk kembali menyapa bebukitan di Alun-alun Suryakencana. Keinginan untuk menginjakkan kaki disana di Puncak Gede makin menggelora, rasanya ingin menyapa kembali hamparan luas alun-alun suryakencana dan bunga edelweis yang mekar di tahun yang akan datang. :)
Tidak butuh waktu lama saya "mengiyakan" ajakan untuk ikut mendaki Gunung Gede.
Keinginan untuk kembali menginjak puncak Gunung Gede akhirnya sedikit menemui titik terang. Sebenernya beberapa bulan yang lalu ada ajakan yang sama dan dikarenakan beberapa hal saya memutuskan tidak ikut.
Keputusan suda diambil, foto copy KTP sebagai salah satu syarat pendaftaran sudah diberikan, dan keputusan saya sudah bulat. Saya berserta 4 kawan saya yaitu fahmi, yudha, ableh dan utun siap untuk berangkat kesana.
Tanggal keberangkatan pun sudah ditetapkan, sementara persiapan fisik? hmmm untuk yang ini ga ada sama sekali, olahraga pun sudah jarang yang ada modal nekad untuk bisa kesana. Cuaca yang tidak tentu membuat beberapa orang bertanya tanya apa benar mau benar benar kesana. Gimana kalo hujan? ya saya pun berpikir demikian, tetapi rasa ingin menginjakkan kaki di Gunung Gede begitu besar dan itu mengalahkan rasa takut akan kehujanan saat melakukan pendakian atau kehujanan setelah sampai tujuan.
Senin 24 Desember 2012
Satu hari menjelang keberangkatan. Packing dilakukan di sore hari, dan apabila diingat sekarang ada beberapa keperluan yang lupa saya bawa. tapi ko itu ransel tetep aja terasa berat :))
Meeting Point ditentukan, dan gedung juang dipilih, jam 5 pagi ditentukan untuk berkumpul disana sebelum berangkat ke Pondok Halimun (PH).
Rumah penguasa komplek kang ajid yaitu yudha :Peace: dipilih menjadi tempat persinggahan, lokasinya yang dekat dengan Gedung Juang menjadi salah satu alasan saya untuk bermalam disana. daripada berangkat sebelum jam 5 pagi dari rumah tentunya.
Fahmi orang yang mengajak saya untuk mendaki Gunung Gede kali ini juga bermalam dirumah yudha sementara untuk dua orang teman lainnya berangkat dari rumah masing-masing.
Selasa 25 Desember 2012
Alarm berbunyi pukul 04:15 lebih 30 menit daripada alarm yang saya setting saya pikir. Jadi masih ada waktu sebelum jam 5 untuk melanjutkan tidur XD
Pukul 05.00 kurang alarm kembali berbunyi, waktunya untuk bangun dan bersiap merapat ke tempat berkumpul.
Tak lama kemudian ableh datang, menurut dia di Gedung Juang belum ada siapa2. Sarapan disajikan untuk para calon petualang yang akan segera berangkat (dan saya ucapakn terima kasih tentunya untuk ibu yudha selaku tuan rumah).
Didepan Gedung Juang bersama 4 orang teman saya yang sudah berkumpul untuk melakukan perjalanan, disana bertemu seorang teman semasa sekolah yang ternyata ikut dalam pendakian kali ini. Ya bertambah lagi orang yang saya kenal. Selain itu ada juga seorang guru yang dulu pernah mengajar saya, yap tambahan seorang yang tidak terlalu asing untuk saya.
Kurang lebih 11 orang berkumpul bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke salabintana. Titik dimana pendakian akan dimulai.
06:12 angkot mulai bergerak ke arah salabintana, dan 20 menit kemudian kami sampai di Pondok Halimun. Pendakian pun akan segera dimulai.
29 orang termasuk saya dan 4 orang teman berkumpul dan bersiap berangkat. Kurang lebih pukul 07.00 wib perjalananpun dimulai.
Belum terlalu jauh kaki melangkah, ternyata salah seorang teman saya tidak bisa melanjutkan pendakian ini. Masalah fisik menjadi salah satu alasan. Perjalanan terus dilanjutkan dengan sesekali istirahat, kurang lebih pukul 12.30 bersitirahat untuk makan siang bersama beberapa kawan. Setelah mengisi perut yang menurut saya penuh kebersamaan perjalanan dilanjutkan.
Sampai Cileutik sekitar pukul 14:00 untuk kembali beristirahat dan mengisi ulang botol air minum bagi yang kehabisan, sementara untuk saya sendiri perbekalan air terasa masih cukup sampai alun-alun suryakencana.
Cuaca makin dingin, rintik-rintik hujan mulai turun dan kabut mulai terlihat. Setelah istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute menuju alun-alun terasa makin curam dan tidak lama hujan pun turun.
Beban bawaan terasa makin berat, tidak bisa banyak beristirahat dibawah guyuran hujan. Pilihannya beristirahat dan kedinginan dibawah guyuran hujan atau melanjutkan perjalanan dengan mengabaikan rasa dingin diseluruh badan akibat kehujanan dan kelelahan akibat beban yang makin berat.
Pohon besar yang melintang di rute yang semakin lama semakin menanjak saya jadikan patokan bahwa alun-alun surya kencana sudah tidak terlalu jauh. Kurang lebih 3 jam akhirnya sampai di alun-alun suryakencana dan rasa lega pun tidak dapat saya tahan.
Cuaca makin terasa dingin, kabut masih menyelimuti tetapi rintik hujan makin berkurang. Hamparan rumput luas dan edelweis terhampar dimata. dan rasa syukur sudah sampai disini meluap luap menjadi obat untuk dingin yang menusuk tulang.
Di Alun-alun Suryakencana barat beberapa tenda sudah didirikan, menunggu teman seperjalanan untuk mendirikan tenda kami dengan air hangat yang ditawarkan kawan sependakian.
Tak lama kemudian yudha dan fahmi pun datang, tenda didirikan dan kami bergegas memasuki tenda untuk berganti pakaian untuk mengurangi rasa dingin.
| Sore di Alun-alun Suryakencana |
Suara suara di luar tenda terdengar, obrolan untuk berangkat ke puncak gunung semakin ramai. Menikmati matahari terbit sepertinya akan menyenangkan,setelah diajak seorang teman saya pun keluar tenda. Kabut tebal menyelimuti, tidak lama kemudian rasa dingin yang menggigilkan membuat saya masuk kembali ke tenda dan memutuskan untuk tidur kembali.
Sekitar pukul enam pagi suara hiruk pikuk makin terdengar, kabut masih terlihat menyelimut. Fahmi memberitahu rencana naik ke puncak belum dilakukan.
Sang matahari suna menyinari dan rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh, setelah sarapan akhirnya kami serombongan melanjutkan perjalan ke puncak Gunung Gede.
![]() |
| Puncak Gede dilihat dari alun-alun suryakencana |
Lutut yang biasa mendadak sakit kembali kambuh, perjalanan ke puncak terasa berat. ingin rasa untuk kembali ke tenda. Tapi terasa akan kurang apabila sudah melakukan perjalanan jauh kurang lebih 8 jam tidak menginjakkan kaki dipuncak. Dengan lutut yang terasa ngilu akhirnya bisa menginjakkan kaki di Puncak Gede dengan ketinggian 2958 mdpl ini.
![]() |
| Perjalanan menuju Puncak Gede |
![]() |
| Gunung Gede Pangrango dilihat dari Puncak Gede |
![]() |
| Alun-alun suryakencana dilihat dari Puncak Gede |
Cukup lama berada dipuncak menikmati keindahan alam beberapa kali mengambil foto, baik foto gunung, awan, dan segala pemandangan yang terlihat darisana, foto2 narsis pun tidak lupa diabadikan untuk dijadikan kenangan.
Setelah cukup puas dipuncak sana sudah waktunya kembali ke alun-alun untuk beristirahat sebelum melakukan perjalanan turun.
Ah lutut ini semakin terasa, secara perlahan berjalan menyusuri jalan bebatuan.
Sampai kembali di tenda, matahari semakin menghangatkan. waktunya berjemur menghangatkan badan dan menjemur beberapa pakaian yang basah saat melakukan pendakian. Terlihat beberapa kawan ditenda masing masing pun melakukan hal yang sama.
![]() |
| Alun-alun Suryakencana |
![]() |
| Sedikit penampakan tenda kawan seperjalanan |
Akhirnya sedikit obat untuk lutut yang sakit ini bisa terobati, utun ternyata membawa balsem yang lupa dikeluarkannya saat kemarin malam. Lumayan banyak mengoleskannya dibagian yang sakit itu dan tidak lupa beberapa bagian kaki yang pegal. Yap alhamdulillah lulut terasa membaik walaupun rasa nyeri terus menyerang, tapi saya rasa itu cukup untuk bisa membawa saya pulang.
Menjelang siang beberapa kawanan membereskan tenda mereka, tapi tak lama kemudian hujan kembali turun. Kami berempatpun serentak membereskan pakaian yang dijemur dan segera memasuki tenda kembali. Terlihat beberapa kawan seperjalanpun melakukan hal yang sama.
Harus bersyukur hujan turun tidak terlalu lama sehingga pukul 12:30 tepatnya setelah dzuhur kelompok yang terdiri dari 28 orang ini bersiap untuk turun gunung.
Perjalan dimulai dan dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai cileutik. lebih cepat 2 jam saat melakukan pendakian. Pukul dua kurang setelah keduapuluh delapan orang berkumpul dan istirahat dirasa sudah cukup perjalanan dilanjutkan, rute untuk pulang berbeda dengan saat mendaki. Untuk rute pulang saya kurang hapal, tepatnya rute yang harus mengarah untuk ke kiri atau kenan.
Tiga kali terpeleset diakibatkan jalan yang licin, untunglah lutut terasa membaik (tertolong dengan adanya balsem) beberapa kali saya berjalan sendiri, jauh dari yang depan ataupun yang belakang. Untungnya saya masih ingat jalan menuju pos yang menunjukkan 6 Km ke arah Pondok Halimun dan 5Km menuju Alun-alun Suryakencana setelah memasuki jalan dua arah dan berganti rute barulah saya tidak tahu sama sekali.
Beberapa orang berkumpul dipos tersebut, beristirahat beberapa menit untuk menunggu rombongan dibelakang tapi tidak bisa terlalu lama dikarenakan hujan mulai turun.
Kami pun bergegas dikarenakan hujan dan mungkin akan berbahaya bagi tubuh apabila menunggu ditengah guyuran hujan.
Rute berdeba diambil, hujan makin lebat dan saya ikut di rombongan pembuka jalan. Rasa dingin terus menusuk seluruh badan, guyuran hujan membuat efek balsem di lutut hilang, rasa sakit yang menusuk kembali tapi saya tak bisa berhenti, beberapa otot kaki kram semuapun pun mungkin merasakan. Satu hal yang saya keluhkan yaitu lutut ini.
Tak ingin terpisah dari rombongan yang terus berjalan tanpa henti dan tidak hapal rute yang diambil itulah alasan saya mencoba untuk terus berjalan, beberapa kali terpeleset dan beberapa kali pula saya harus menyeret kaki kanan yang lututnya kumat ini untuk berjalan. Tidak saya sendiri yang beberapa kali terpeleset, teman teman didepanpun mengalami hal yang serupa.
Diperjalanan ada beberapa simpangan dan untuk memudahkan rombongan dibelakang, simpangan yang bukan jalur untuk pulang diberi tanda baik itu dengan batang pohon.
Perjalanan kali ini terasa singkat, mungkin dikarenakan orang yang membuka jalan yaitu pak usep terus berjalan tanpa henti selain dua hal yang saya sebut diatas ini menjadi motivasi untuk terus berjalan dibawah guyuran hujan.
Dibutuhkan kurang lebih 3 jam dari cileutik sampai di hamparan kebun teh yang sedang direboisasi. Hujan masih mengguyur dan rasa dingin disekujur tubuh masih terasa. Tidak terlalu lama rombongan kedua akhirnya sampai dihamparan kebun teh tersebut.
11 orang berkumpul disana, masih ada 17 orang didalam rute yang masih liar tersebut, menurut pak usep rute tersebut memang sedikit menyesatkan apalagi untuk yang tidak hapal jalan, untungnya sudah diberi tanda untuk memudahkan teman teman yang lain.
Kami pikir akan sangat berbahaya apabila kawan kawan didalam rute tersebut terjebak sampai malam, apalagi jaraknya kami yang sudah sampai dan rombongan yang tersisa ternyata cukup jauh. Kurang lebih 30 menit kami menunggu akhirnya suara rombongan berisi 17 orang teman seperjalanan kami terdengar. Lega rasanya apalagi dua teman saya masih disana.
Akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang, rasa lelah dan senang bisa segera pulang meluap-luap. Tidak ada rasa jera untuk kembali menyapa bebukitan di Alun-alun Suryakencana. Keinginan untuk menginjakkan kaki disana di Puncak Gede makin menggelora, rasanya ingin menyapa kembali hamparan luas alun-alun suryakencana dan bunga edelweis yang mekar di tahun yang akan datang. :)
















2 komentar:
curhatnya kurang lengkap, tapi asik tuh diphoto di depan awan, hha :D
Curhat yang kurang sebelahmananya? :p
Posting Komentar